Makam Santri KH Hasyim Asy'ari Di Lamongan, Jawa Timur.

Jejak Nusantara  - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa menyampaikan bahwa dunia lagi muncul fenemena-fenomena tekhnologi yang serba canggih seiring perkembangan zaman.

"Maka dari itu, dengan perkembangan tekhnologi yang semacam ini, orang-orang sudah mulai satu dari sekian juta meninggalkan tradisi klasik".

"Karena salah satu penyebabnya adalah tersedianya instrumen atau alat-alat tujuan dimana semua orang bisa mencari dan mengakses segala informasi dengan cepat". ujarnya saat menyampaikan acara peringatan haul KH Abdul Fattah yang ke 32 dan para Masyaikh Pondok Pesantren Al Fattah digelar di Halaman Pondok Pesantren Al Fattah Desa Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan. Ahad siang (30/7/23).

Ket.Foto: KH Zulfa Mustofa Wakil Ketua Umum PBNU Saat Memberikan Isi Ceramah.

Dalam acara Haul KH Abdul Fattah yang ke 32 dan para Masyaikh Pondok Pesantren Al Fattah turut hadir, Bapak Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Wakil Bupati Lamongan KH Abdul Rouf, Habib Ahmad Idrus Al Habsyi, PCNU Babat, MWC NU, Forkompincab, Danranmil, Kapolsek dan beserta para tamu undangan yang lainnya.

KH Abdul Fattah sendiri merupakan salah satu tokoh penting di Nahdlatul Ulama dengan pernah menjabat Rois Syuriah NU Lamongan pada tahun 1986 sampai 1991. Beliau sendiri merupakan salah satu santri dari Hadharatus Syekh KH Hasyim Asy'ari.

Ket. Foto: Makam KH Abdul Fattah Terletak Di Pemakaman Umum Desa Setempat.

Tidak hanya itu, perananan KH Abdul Fattah dan keberadaan pondok pesantren sangat penting dalam sejarah perkembangan dan perjuangan Islam. Terbukti anak, cucu dan santri kiai tak hanya belajar agama Islam, namun ada juga yang menimba ilmu umum di Amerika dan Inggris.

Beberapa puluh tahun yang lalu, kalau para santri menyelenggarakan Bahtsul Masail dengan membawa puluhan kitab. Namun sekarang cukup dengan membawa laptop (Maktabah Syamilah). Semua dokumen kitab bisa tersimpan didalamnya. Ini semua merupakan bagian dari fenomena-fenomena tekhnologi.

Tahun ini, dunia dikagetkan kembali dengan munculnya kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial (IA) yang lebih canggih dari pada google. 

Kalau google mempunyai fungsi hanya menghimpun data, sedangkan intelegensi artifisial (IA) bisa mengelola data dan bisa diperintahkan sesuai keinginan kita sendiri.

Beliau KH Zulfa Mustofa mencontohkan kecerdasan dari intelegensi artifisial (IA). "Kalau dulu orang berkhutbah atau ceramah harus membuka kitab terlebih dahulu, namun sekarang dengan adanya intelegensi artifisial (IA). Kita bisa perintahkan untuk membuatkan materi tentang khutbah atau ceramah dengan segala tema dan bahasa".

Ket. Foto: Bupati Lamongan Bapak Yuhronur Efendi, KH Zulfa Mustofa dan Habib Ahmad Idrus Al Habsyi.

Beliau menegaskan "Kalau zaman sudah seperti ini, masihkan perlu mondok?, Sehebat-hebatnya google dan intelegensi artifisial (IA) yang membedakan dengan kyai dan ulama adalah sanad".

Lanjut KH Zulfa Mustofa "Para kyai dan ulama bisa membimbing dan mendidik kita, sedangkan google dan intelegensi artifisial (IA) tidak bisa membimbing dan mendidik kita, karena dia hanya sebuah mesin dan tidak bersanad".

Maka sanad atau isnad itu merupakan bagian terpenting dalam mencari ilmu. Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad melalui keilmuan dari seorang guru ke guru. Penulis Tim Jejak Nusantara.

Post a Comment

أحدث أقدم