Jejak Nusantara - Desa Trosono merupakan salah satu desa yang lokasinya berada ditengah-tengah perkebunan dan jauh dari kota metropolitan. Desa ini terbilang cukup unik, karena dikelilingi dengan berbagai macam penghasil perkebunan; mulai dari tanaman padi, jagung, melon, semangka dan lain sebagainya.
Mulai dari ujung bagian barat, timur, selatan dan utara, rata-rata penduduk setempat penghasilannya adalah berkebun, pedagang dan sebagian wiraswasta. Desa yang letaknya berada di Kecamatan Sekaran itu, merupakan salah satu desa penghasil tanaman padi dan buah semangka terbesar yang ada di Kecamatan Sekaran. Bahkan sampai tembus dipasaran tingkat Kabupaten.
Hal demikian pernah disampaikan mantan Bupati Lamongan yakni H.Masfuk.SH saat kompetisi lomba semangka pada belasan tahun kemarin. Desa yang terletak dibagian ujung paling selatan di Kecamatan Sekaran tersebut, mempunyai banyak cerita rakyat diantaranya adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam yang bernama "Raden Surodipo" atau biasanya penduduk setempat menyebutnya "Mbah Palang dan Dewi Condro Wulan Sari".
Raden Surodipo merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Desa setempat. Beliau sendiri merupakan salah satu prajurit dari kerajaan Majapahit yang sekarang berganti nama menjadi Mojokerto, Jawa Timur. Mbah Nawawi Tuban, salah satu tokoh yang membuka makam beliau, menceritakan bahwa: Raden Surodipo alias Mbah Palang merupakan Prajurit Majapahit yang pernah nyantri --berguru untuk memperdalam ilmu agama Islam-- kepada Syekh Ibrahim Asmoroqondi atau Syekh Ibrahim As-Samarqandi yang dikenal sebagai ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) yang makamnya terletak di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Setelah nyantri dengan waktu yang sekian lama, sampai pada akhirnya Raden Surodipo alias Mbah Palang mempunyai keinginan dan keteguhan dalam hatinya untuk memeluk ajaran agama Islam dan mengamalkannya. Syekh Ibrahim Asmoroqondi selaku guru beliau, menuntunnya dan disaksikan para santri-santri lainnya untuk mengucapkan kalimat syahadat tiga kali dan ditutup dengan doa seperti agama Islam pada umumnya.
Setelah sekian lama mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam, akhirnya beliau diutus oleh gurunya Syekh Asmoroqondi untuk berdakwah di daerah Timur dari Bengawan Solo dengan ditemani istrinya yang bernama Dewi Condro Wulan Sari Putri Raja Bintoro dari Champa adik dari Syekh Asmoroqondi atau Bibi Raden Rahmatullah (Sunan Ampel). Beliau sempat berhenti disalah satu Desa Keting, dulunya merupakan bekas pelabuhan dan tempat yang sering dilalui para wali ketika berada dilokasi setempat.
Beliau diperkirakan datang ke Desa Trosono mulai tahun 1400-an, ketika Majapahit “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Pendapat tersebut dikuatkan dengan adanya sebuah batu prasasti timbul quadrat diera kerajaan yang ditemukan tidak jauh dari area lokasi makam.
Masih kata Mbah Nawawi Tuban, saat beliau selesai berhenti dan beristirahat di pelabuhan, beliau berdua melanjutkan kembali perjalanannya ke arah timur dan berhenti di antara 2 pohon besar yaitu pohon sono dan 2 bunga, mungkin dari situlah cikal bakal nama dari Desa Trosono. Menurut buku Atlas Wali Songo karya KH. Agus Sunyoto, Ketua PP LESBUMI NU, pada era tahun tersebut, khususnya masyarakat Jawa masih kental dengan agama Hindu, Budha dan Kapitayan.
Agama Islam hanya sebagian, akan tetapi belum banyak diminati dari kalangan kaum kawulo atau gusti¹. Agama Islam bisa berkembang begitu pesat di Desa Trosono salah satunya melalui perjuangan dakwah dari Raden Surodipo dan Dewi Condro Wulan Sari. Pola metode dakwah yang ditawarkan dan dipakai adalah secara lenient yakni secara lemah lembut dan memberikan kesenangan apa yang diinginkan oleh penduduk setempat.
Beliau berdua sempat mendirikan sebuah bangunan padepokan --tempat mengajarkan agama Islam-- dan balai pertemuan. Dalam proses perkembangan agama Islam ditanah Jawa sangat dipengaruhi oleh Cina. Dalam catatan Markopolo Tahun 1292, khususnya didaerah Perlak yang hari ini berganti nama menjadi Aceh, ditemukan bahwa penduduk disana mayoritas Cina sudah beragama Islam.
Kalau kita melihat kembali literatur historis Tahun 1405 kunjungan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia. beliau singgah di Tuban berserta rombongannya bahwa 1000 lebih didaerah pesisir pantai. Seluruh keluarga Cina sudah memeluk agama Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa tendensius penyebaran agama Islam di Jawa sangat didominasi dan dipengaruhi oleh Cina.
Pendapat tersebut semakin kuat dengan ditemukannya beberapa pecahan kronik Cina yang ditemukan di area lokasi makam.
Bahwa dulunya masyarakat Desa Trosono masih gemar dalam mengoleksi dan menyukai barang dagangan Cina. Sedangkan kalau dilihat dari letak geografis 500 meter jarak dari Desa Trosono sampai ke Desa Miru ada salah satu pesarean Abu Huroiroh beliau merupakan Santri Raden Rahmatullah (Sunan Ampel). Hipotesis sementara bahwa: Abu Hurairah juga merupakan salah satu pengawal yang diutus oleh Sunan Ampel untuk menjaga bibinya yang berada di Desa Trosono.
250 meter ke arah timur ada salah satu keluarga dari Raden Surodipo yang dimakamkan di Desa Latek. Dari embrio sinilah mulai muncul perkembangan Islam di Desa Trosono dan di desa sekitarnya. Sampai hari ini makam beliau masih terawat dan berada dipemakaman umum dengan nisan batu bata yang berdiameter dengan panjang 20cm sampai 25cm.
Penulis: Tim Jejak Nusantara, 2016 dan Diperbaharui 2022.
Keterangan lainnya:
Silsilah makam yang berada di Desa Trosono
1.Raden Wijaya - Tribuana Tungga Dewi - Raden Aryo Banjaran - Raden Aryo Mentaun - Raden Aryo Randu Gunting - Raden Aryo Tanduran - Raden Surodipo (Mbah Palang).
2.Dewi Condrowulan (Adik Ipar Istri Sunan Asmoro Qondi atau Bibi Raden Rahmatullah Sunan Ampel)
3.Sunan Asmoro Qondi - Sunan Ampel - Sunan Drajat - Raden Sanji - Raden Wingisangi - Nyai Fatimah Sari
4.Mbah Wirojati (Mbah Rosyid)
5.Raden Wijaya - Kencono Wungu - Hayam Wuruk - Gerinda Wardhana - Raden Purwawi - Raden Tronowijo (Abdul Fattah).
Sumber Referensi:
1. Mbah Nawawi, Kec.Jenu, Kab. Tuban
2. Buku Atlas Wali Songo, Karya KH Agus Sunyoto, LESBUMI PBNU.
3. Silsilah Para Tokoh Nusantara
4. Masyarakat Desa Trosono
Catatan kaki:
1. Kawulo: orang yang hidup didalam kerajaan.
2. Gusti: orang yang hidup diluar kerajaan (rakyat biasa).
Posting Komentar